Sabtu, 6 Juni 2026

Dari Mangrove untuk Kesejahteraan: Wabup Katamso Resmi Buka ToT NbS di Pangkal Babu

Rabu, 03 Juni 2026 - 20:45:24

 

KUALA TUNGKAL – Kabupaten Tanjung Jabung Barat kembali menjadi sorotan internasional dalam upaya pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi pesisir. Wakil Bupati Dr. H. Katamso, S.A., S.E., M.E., secara resmi membuka kegiatan Training of Trainers (ToT) Model Bisnis Berbasis Mangrove yang Responsif Gender (Nature-based Solutions/NbS) di Aula Bapperida Tanjab Barat, Rabu (03/06/2026).
 
Acara yang berlangsung selama tiga hari (3-5 Juni 2026) ini menandai langkah strategis menjadikan kawasan mangrove Desa Tungkal I sebagai "Living Laboratory" atau laboratorium hidup bagi pengelolaan ekosistem berbasis masyarakat yang inovatif dan inklusif.
 
Kolaborasi Global: IPB, University of Waterloo, dan FINCAPES
 
Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama prestisius antara Institut Pertanian Bogor (IPB) dan University of Waterloo, Kanada, melalui IPB Centre for Applied Research in Nature-based Solutions (I-CAN), serta didukung oleh organisasi internasional FINCAPES.
 
Field Director FINCAPES, Paulo Vaggi, menjelaskan bahwa Desa Tungkal I dipilih sebagai salah satu dari tiga desa dampingan di Provinsi Jambi karena potensi besarnya dalam pengelolaan mangrove.
 
“Kami berharap kawasan ini berkembang menjadi living laboratory yang menghasilkan praktik terbaik (best practice). Melalui pelatihan bisnis ini, masyarakat di Pangkal Babu dan sekitarnya tidak hanya menjaga alam, tetapi juga membangun usaha berkelanjutan yang meningkatkan kesejahteraan ekonomi,” ujar Paulo Vaggi.
 
Fokus Unik: Bisnis Ramah Lingkungan & Pemberdayaan Perempuan
 
Yang membedakan program ini adalah pendekatannya yang responsif gender. Sebanyak 25 peserta terpilih—yang terdiri dari nelayan, pelaku UMKM, pemilik warung, kelompok pembibit, pegiat lingkungan, hingga influencer lokal—akan dilatih untuk mengembangkan model bisnis yang tidak merusak ekosistem, sekaligus memastikan perempuan dan kelompok marginal mendapatkan manfaat ekonomi yang setara.
 
Wabup Katamso dalam sambutannya sangat mengapresiasi pendekatan inklusif ini. “Pemberdayaan masyarakat pesisir harus menyentuh semua lapisan, termasuk perempuan. Ketika perempuan berdaya secara ekonomi melalui pengelolaan mangrove, ketahanan keluarga dan komunitas akan semakin kuat,” tegasnya.
 
Dukungan Swasta: PetroChina & SKK Migas
 
Wabup Katamso juga mengungkapkan rasa terima kasih kepada mitra korporasi seperti PetroChina dan SKK Migas yang telah memilih Tanjab Barat sebagai lokasi pilot project. Dukungan mereka berupa pendampingan masyarakat, fasilitas fisik, dan program CSR lainnya dinilai krusial dalam mempercepat transformasi ekonomi hijau di daerah.
 
“Kami bersyukur kawasan mangrove kami dijadikan percontohan. Ini bukti bahwa konservasi dan ekonomi bisa berjalan beriringan. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, swasta, dan masyarakat adalah kunci suksesnya,” kata Wabup Katamso.
 
Menuju Ekonomi Hijau Berkelanjutan
 
Kehadiran Kepala Bapperida, dosen Fakultas Kehutanan Universitas Jambi, serta para ahli Gender Equality and Social Economic Inclusivity (GESEI) menunjukkan keseriusan pemda dalam mengawal program ini.
 
Dengan dijadikannya Tanjab Barat sebagai Living Laboratory, diharapkan lahir inovasi-inovasi produk olahan mangrove, ekowisata, dan jasa lingkungan yang dapat direplikasi di daerah lain. Langkah ini sejalan dengan komitmen global dalam mengatasi perubahan iklim melalui solusi berbasis alam (Nature-based Solutions), sambil tetap menjamin keadilan sosial bagi masyarakat lokal.
Penulis: Andi
Editor: Raden Denni